Sabtu, 12 Desember 2015

Menjaga Lisan

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Menjaga lisan berupa diam dari berkata yang mengundang kemarahan Allah 'Azza wa Jalla merupakan fardhu 'ain atas setiap muslim dan muslimah. Lebih dari itu, menjaga lisan termasuk bagian dari iman.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

"Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata yang baik atau (jika tidak bisa) hendaknya ia diam." (Muttafaq 'Alaih)

Maksudnya: siapa yang beriman dengan keimanan yang sempurna hendaknya ia berkata yang baik, dan jika tidak maka hendaknya ia diam. Karena orang yang beriman kepada Allah dengan keimanan yang benar maka ia mengharapkan pahala-Nya, takut ancaman-Nya, berusaha mengerjakan perintha-Nya, menjauhi segala larangan-Nya; di antara ia memelihara seluruh anggota tubuhnya agar tidak melakukan sesuatu yang mengundang kemurkaan-Nya. Salah satu anggota tubuhnya tersebut adalah lisannya.

Sesungguhnya urusan lisan sangat besar. Fitnahnya sangat banyak. Bahayanya juga tak terduga. karena gerakan lisan tidak memerlukan tenaga yang besar dan dilakukan sangat mudah. Di tambah banyak orang menggampangkan urusannya. Akibatnya, banyak orang masuk neraka karena kerja lisannya. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ (أَوْ: عَلَى مَنَاخِرِهِمْ) إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ

"Apakah (ada) yang menyebabkan seseorang terjerembab di neraka di atas wajah (atau hidung mereka) kecuali disebabkan oleh tindakan lisan mereka'?" (HR. Al-Tirmidzi, beliau berkata: hadits hasan shahih)

Maka siapa yang mengimani hal ini dengan benar, maka ia akan bertakwa kepada Allah berkenaan dengan lisannya, sehingga ia tidak berbicara kecuali kebaikan atau –jika tidak- maka ia memilih diam.

Para ahli hikmah menyampaikan, "Di dalam diam terdapat keselamatan, sedangkan di dalam berbicara terdapat penyesalan. Jika berbicara adalah perak, maka diam adalah emas." Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

-ej-

Rabu, 09 Desember 2015

"CEMBURU"

Sebuah perasaan yang tidak bisa diungkapkan hanya dengan sebatas kata
Tapi ingin dimengerti

Rasa cemburu akan muncul karena adanya rasa cinta. Semakin kuat rasa cinta seorang wanita kepada lelakinya maka semakin kuat pula rasa cemburu dalam hatinya. Berdasarkan ketentuan syariat, cemburu dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
Ditinjau dari nilainya di sisi Allah Subhanahu wa Taala, cemburu bisa dibagi menjadi dua macam. Dalam sebuah hadist disebutkan, bahwa Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda:
Ada jenis cemburu yang dicintai Allah Subhanahu wa Taala, adapula yang dibenci-Nya. Yang disukai, yaitu cemburu tatkala ada sangkaan atau tuduhan. Sedangkan yang dibenci, yaitu adalah yang tidak dilandasi keraguan.
(Sunan al Baihaqi :7/308)

Cemburu karena hawa nafsu dan tanpa bukti dapat menghancurkan suatu hubungan yang rapuh. Seorang muslim dan muslimah yang bertaqwa akan menjaga lisannya dari membicarakan hal-hal yang diharamkan akibat kecemburuan yang disebabkan oleh syaitan. Ia juga tidak akan melepaskan perasaan cemburunya secara liar demi menjalankan firman Allah Azza wa Jalla,
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa apabila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah Subhanahu wa Taala. Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. (QS. Al-Araf: 201)

Bukan berarti kita tidak boleh cemburu. Rasa cemburu bukanlah sesuatu hal yang buruk dan harus dihilangkan atau ditolak, namun semua itu harus berdasar kepada ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam syariat.

Namun jika seorang wanita ingin menyembunyikan gejolak yang membara karena rasa cemburu di dalam hatinya karena ingin mensucikan jiwanya maka itu sah-sah saja bahkan Allah Subhanahu wa Taala menjanjikan pahala dalam Firman-Nya (buka : QS. An-Nisa:32)
Semoga Allah Subhanahu wa Taala senantiasa menjaga hati-hati kita dari rasa cemburu yang dapat menyeret kita kepada prasangka buruk serta hal-hal tercela yang membuat murka Allah Subhanahu wa Taala. Wallaahu alam

-ej-